Friday, May 10, 2013

Mangingat empat kengerian

Hatim al-Asham rahimahullah mengatakan, “Siapa yang kalbunya tidak pernah mengingat empat kengerian ini, berarti dia adalah orang yang teperdaya dan tidak aman dari kecelakaan.

(1) Saat yaumul mitsaq (hari saat diambilnya perjanjian terhadap ruh manusia) ketika Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ‘Mereka di surga dan Aku tidak peduli, sedangkan mereka (yang lain) di neraka dan Aku tidak peduli’; dia tidak tahu, dirinya termasuk golongan yang mana.

(2) Saat dia diciptakan dalam tiga kegelapan (di dalam rahim), ketika malaikat diseru (untuk mencatat) kebahagiaan atau kesengsaraan (seseorang); dia tidak tahu apakah dirinya termasuk orang yang sengsara atau bahagia.

(3) Hari ditampakkannya amalan (saat sakaratul maut); dia tidak tahu, apakah dia diberi kabar gembira dengan keridhaan Allah Subhanahu wata’ala atau kemurkaan- Nya.

(4) Hari ketika manusia dibangkitkan dalam keadaan yang berbeda-beda; dia tidak tahu jalan mana yang akan ia tempuh di antara dua jalan yang ada.”

(Jami’ al-‘Ulum wal Hikam hlm. 81) / www.asyariah.com

Wednesday, June 20, 2012

Ditampar Alloh

Roby memang seorang yang temperamental, pemarah, sering jengkel, bicaranya terkadang menimbulkan salah tangkap lawan bicaranya walaupun Roby tidak bermaksud marah dan ini ia sadari sejak lama. Kadang pula istri dan anaknya jadi korban pelampiasan kemarahannya.  Ibunya pun heran sejak kapan si Roby ini memiliki sifat dan karakter seperti ini padahal dahulu Roby adalah putra kesayangan ayah dan ibunya walaupun dia bukanlah anak bungsu bahkan anak paling besar dari lima saudara alias anak “barep”. Sejak SMA Roby adalah anak kebanggaan keluarganya karena selalu menjadi bintang kelas di salah satu sekolah “setengah” favorit di kotanya Bandung (setengah favorit???). Roby tidak pernah tinggalkan sholat berjamaah ke mesjid kecuali kepepet…heheheh, mengaji adalah aktifitas utamanya. Dan iya adalah seorang insinyur lulusan Fakultas Teknik Sipil dari Perguruan Tinggi ternama di kota Solo. Sekarang dia senantiasa disapa dengan sapaan kehormatan masyarakat sekitar tempat tinggalnya dan di tempat dia bekerja. “Ustadz” itulah panggilan yang selalu tersemat di pundaknya walaupun dia tidak begitu suka dengan panggilan itu karena dia tahu panggilan tersebut terlalu mulia baginya sementara ilmu dan karakternya tidaklah menunjukkan seorang ustadz. Tapi Roby tak bisa mengelak karena didukung oleh tampang ustadz yang dimilikinya jenggot dan jidat hitam.

Ahad siang itu memang hari yang penuh amarah dan kejengkelan bagi Roby, apa pasal? Kedua anaknya membuatnya jengkel karena mereka membuat kakacauan dihalaman rumah yang baru saja dia bersihkan. “ plak “  sebuah tamparan mendarat di pantat kedua anaknya yang terbilang masih kecil itu, pecahlah tangisan keduanya dan berlari  memeluk ibunya. Istri Roby yang tentunya ibu kedua anaknya hanya diam, karena kejadian ini bukan satu dua kali terjadi alias beberapa kali dan bicara bukan menyelesaikan masalah untuk meredam amarah Roby. 

Adzan ashar berkumandang. Sebagaimana biasa Roby memenuhi panggilan sholat ashar berjamaah di mesjid yang tidak seberapa jauh dari rumahnya. Selepas Sholat dan dzikir Roby terdiam menyesali apa yang telah diperbuatnya. “Mengapa harus marah bukankah aku sudah mendeklarasikan diri untuk mengendalikan amarah dan kejengkelan, bukankah aku tahu dalil-dalil kejelekan marah dan keutamaan mengendalikannya, bukankah kamu dengan lantang menyampaikan Khutbah diatas mimbar Ied tahun lalu bahwa menahan marah adalah salah satu ciri orang bertaqwa yang dijanjikan surga yang luasnya  seluas langit dan bumi.. Yaa Alloh…” Roby berkata kepada dirinya sendiri. 

************
Tamparan dari Alloh

Senin, selepas sholat subuh Roby bersiap berangkat ke Jakarta untuk bekerja sebagaimana telah berjalan dua bulan terakhir ini. Senang bercampur susah menyertai kepergiannya subuh itu. Senang karena akan terhindar dari penyebab kejengkelan dan susah karena harus berpisah sementara dengan anak-anak dan istri....loh bingung kali si Roby, memang itulah perasaannya subuh itu campur aduk. Sepanjang perjalanan Roby berusaha menghibur diri dengan mendengarkan rekaman siaran ceramah berbahasa sunda dari Ki Balap seorang Kiayi nyentrik asal Bogor. Ceramah yang menceritakan tentang shohibul Hikayat Ki Ahmad itu cukup menghiburnya sepanjang perjalanan Bandung-Jakarta. Rekaman jadul sekitar tahun enam puluhan ini Roby simpan di dalam ponselnya yang sempat dia banting beberapa hari sebelumnya, tanya kenapa? “MARAH”. 

Panas terik matahari Jakarta tidak menjadikan Roby untuk bermalas-malas melaksanakan aktifitasnya senin siang itu hingga langit barat memerah tanda maghrib. Dengan kopiah krem tua milik almarhum mertuanya, sarung hijau dan koko krem pemberian bosnya tidak lupa parfum “aqua digioman” pilihan sang istri menghiasi langkah Roby ke mesjid jami al-mukhlisin dekat kantor tempat dia bekerja. 

Diantara jamaah mesjid al-mukhlisin ada seorang tua renta yang selalu berada si barisan terdepan dalam shof sholat. Diatas kursinya pak Yono begitu beliau biasa disapa tidak bosan melantunkan sholawat sambil menunggu dikumandangkannya iqomah tanda sholat mulai ditegakkan. Menurut pengakuannya pak Yono berusia sekitar 100 tahun, diusia yang bisa dikatakan uzur itu pak Yono dengan tongkat yang setia menemaninya tetap bersemangat memenuhi panggilan Azan dan berjamaah di mesjid walaupun beliau senantiasa meminta bantuan beberapa orang untuk memboncengnya ke mesjid dan menuntunnya manaiki titian tangga mesjid al-Mukhlisin yang dibangun tiga lantai itu. 

Selepas Sholat maghrib, entah kenapa Roby menyengaja menunggu pak Yono di bibir tangga mesjid. Dia berharap pak Yono memanggilnya untuk diminta bantuan menuntunnya menuruni tangga. Benar juga, pak Yono memanggilnya meminta bantuan. Senyum Roby tersungging menyambut pak Yono. Dituntunnya pak Yono yang masih kuat ingatannya di seusianya namun Pak Yono harus menggunakan alat bantu dengar di telinganya. 
Hal yang biasa dilakukan pak Yono kepada orang yang membantu menuntunnya adalah bercerita tentang dirinya, memberi semangat untuk selalu membantu orang yang membutuhkan bantuan dan tentunya berkenalan. Hal yang selalu Pak Yono katakan dan bisa dikatakan materi reguler adalah sesiapa yang membantu orang tua sepertinya maka dia akan dibantu orang lain tatkala usianya uzur pula beliau ibaratkan seperti seseorang yang menanam padi maka dia akan mendapatkan padi juga, sederhana memang tapi dalam. 

Seperti biasa pak Yono bertanya nama kepada Roby.
“ adik namanya siapa?” tanyanya.
“ Roby Kek” jawab Roby sambil menuntun perlahan Pak Yono menuruni tangga.
“ siapa?? Ruhi??” Tanya pak Yono lagi karena kurang jelas.
“Roby kek R…O… B… Y…Rooo..by” jawab  Roby agak meninggikan volume suaranya.
“ oooo….Roby” pak Yono menyambut.
“ Iya kek…” Roby mengiyakan sambil tersenyum.
“pesan saya buat dik roby.. yaa… kurangi marahnya …kurangi dongkolnya…terutama sama keluarga….ya!!!”kata pak Yono.
“ bagaimana kek??” Roby mendadak budek tidak percaya dengan apa yang dikatakan Pak Yono pada dirinya.
“ iyaa…. Kurangi marahnyaaaa… kurangi dongkolnya…terutama kepada keluarga…” tegas Pak Yono.

Serasa ditampar gledek di malam hari  Roby berusaha menahan air matanya, sementara tangannya masih mengenggam tangan pak Yono ingatannya menerawang kepada apa yang telah dilakukan sebelumnya kepada ibu, istri dan kedua anaknya. Tidak ada lagi pembicaraan setelah itu dengan pak Yono. Roby hanya diam membisu, menyesali perbuatan yang telah dilakukannya selama ini. Ini teguran dari Alloh SWT melalui orang yang tidak disangkanya, orang yang tidak mengenalnya sama sekali kecuali semaghrib itu saja. Tidak pikir panjang Istri dan anaknya di hubunginya, Roby meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya, anaknya hanya mengatakan iya…iya….iya.
Roby berharap kejadian ini menjadi titik awal perubahan yang memang tidak mudah.
“Terima kasih Alloh Kau sudah tampar hamba, bantu aku yaa Alloh, terima kasih pak Yono” bisiknya.


Monday, June 4, 2012

Dua Kuasa Alloh Bertemu


Hari ini Senin,  4 Juni 2012 sekitar pukul 18 atau enam sore terjadi gerhana bulan sebagian.  Namun gerhana kali ini agak berbeda dengan gerhana yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya karena dalam waktu yang sama terjadi pula gempa bumi yang berpusat di sukabumi , dengan goncangan sekitar 6,1 SR tersebut terasa hingga ibukota  Jakarta dan Bandung . Dua peristiwa alam yang semestinya tidak disikapi biasa. Mengapa demikian?

Kabar dari Rasululloh SAW.

“Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua (tanda) dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut maka hendaklah kalian berdo’a kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah”. Setelah itu, beliau bersabda : “Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang yang lebih cemburu dari Allah jika hambaNya, laki-laki atau perempuan berzina. Wahai umat Muhammad, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis” [Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani]

Dalam hadist diatas Rasululloh SAW memerintahkan kepada kita untuk banyak berdo’a, mengagungkan Alloh dengan bertakbir, sholat dalam hal ini sholat gerhana dan bersedekah. Yang menarik dari hadist diatas adalah sikap cemburunya Alloh. Bagaimana sebenarnya cemburunya Alloh? Dalam hadist diatas secara khusus disebutkan bahwa cemburunya Alloh jika hambanya berzina namun dalam hadist yang lain Rosululloh Saw bersabda :

"Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala cemburu dan cemburunya Allah bila seseorang mendatangi apa yang Allah haramkan atasnya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Intinya cemburu adalah sikap ketidak-sukaan, jadi Alloh SWT tidak suka melihat hambanya melakukan tindakan atau perbuatan yg diharamkan-Nya, Alloh cemburu jika kita maksiat kepada-Nya.

Banyak menangis sedikit tertawa

Apa yang rosul ketahui dan kita tidak ketahui? Sehingga jika kita mengetahui apa yang Rosul ketahui kita akan sedikit tertawa dan banyak menangis?

Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis”.
Anas bin Mâlik radhiyallâhu'anhu –perawi hadits ini- mengatakan,
Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu. Mereka menutupi kepala mereka sambil menangis sesenggukan”.
(HR. Muslim, )

Imam Nawawi rahimahullâh berkata,
“Makna hadits ini, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sama sekali melebihi apa yang telah aku lihat di dalam surga pada hari ini. Aku juga tidak pernah melihat keburukan melebihi apa yang telah aku lihat di dalam neraka pada hari ini. Seandainya kamu melihat apa yang telah aku lihat dan mengetahui apa yang telah aku ketahui, semua yang aku lihat hari ini dan sebelumnya, sungguh kamu pasti sangat takut, menjadi sedikit tertawa dan banyak menangis”.
(Syarh Muslim,)

Hadits ini menunjukkan anjuran menangis karena takut terhadap siksa Allâh Ta’ala dan tidak memperbanyak tertawa, karena banyak tertawa menunjukkan kelalaian dan kerasnya hati.

Gempa Bumi

Gempa bumi dalam kacamata ilmu pengetahuan terjadi karena beberapa sebab diantaranya gempa vulkanik Gempa bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas magma, yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Kemudian gempa tektonik Gempa bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar.
Terlepas dari teori diatas mari kita lihat bagaimana paparan uswah kita Rosululloh SAW.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

‘Tidak akan tiba hari Kiamat hingga banyak terjadi gempa bumi”( HR. Bukhori)
Diriwayatkan dari salamah bin Nufail as-Sakuni ra beliau bersabda :

“Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam… (lalu beliau menuturkan haditsnya) dan sebelum Kiamat ada dua kematian yang sangat dahsyat, dan setelahnya terjadi tahun-tahun yang dipenuhi dengan gempa bumi.”(HR. Ahmad, Thabroni,bazzar dan Abu Ya’la).

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Telah terjadi banyak gempa di negeri-negeri bagian utara, timur, dan barat. Namun yang jelas bahwa yang dimaksud dengan banyaknya gempa adalah cakupannya yang menyeluruh dan terjadi secara terus-menerus.”
Hal ini diperkuat dengan riwayat dari ‘Abdullah bin Hawalah Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan kedua tangannya di atas kepalaku, lalu beliau berkata, ‘Wahai Ibnu Hawalah! Jika engkau melihat kekhilafahan telah turun di atas bumi-bumi yang disucikan, maka telah dekatlah gempa, bencana dan masalah-masalah besar, dan hari Kiamat saat itu lebih dekat kepada manusia daripada dekatnya kedua tanganku ini dari kepalamu.” (Musnad Ahmad)

Bahkan Alloh berfirman memperingatkan hambanya tentang peristiwa ini.

“Katakanlah : Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu kepada keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)".[Al An'am : 65]
Maksud dari "azab dari atas" dalam ayat tersebut adalah seperti petir, halilintar yang  menghancurkan, dan angin topan. Adapun makna “azab dari bawah" adalah seperti gempa dan tanah longsor.

Diantara kedua peristiwa gerhana dan gempa

Malam ini Alloh SWT menunjukkan dua kekuasaan-Nya sekaligus, pada malam ini semestinya kita menjadi sepandai-pandai hamba yang mengambil manfaat dari dua peristiwa ini.
Renungkanlah firman Allah SWT: “Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”.
Khouf ( takut) dan Roja’ ( harap) adalah sikap yang pantas bagi hamba beriman dalam menyikapi dua peristiwa malam ini.  Takut akan adzab Alloh yang ditimpakan karena sebab semakin maraknya, merajalelanya kemaksiatan di muka bumi dan berharap semoga Alloh menyelamatkan kita dari tindakan maksiat, dosa yang menjadi penyebab segala musibah di muka bumi.
Firman-Nya:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41).

Renungkan hadist dibawah ini:

Seorang hamba pelaku maksiat (kalau dia mati) maka para hamba, negeri-negeri, pepohonan dan hewan-hewan ternak akan tenang dari (akibat maksiat) nya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Maka berdoa, mengagungkan Alloh Ta’ala, Sholat dan sedekah adalah amalan terbaik untuk mewujudkan harap dan perlindungan.

Allohu A’lam Bishowab

Thursday, March 10, 2011

Asbab dan Pemilik Asbab ( Status FB Kang Dayat)

biarkanlah kita kehilangan dan tidak menguasasi asbab-asbab (sebab/sarana) itu tetapi jangan sekali-kali kita kehilangan dan tidak memiliki 'ruhul asbab'nya yaitu Allah swt. yang memiliki, berkuasa dan berkehendak atas asbab-asbab itu.........

Status diatas di posting oleh kang Dayat ( begitu saya biasa memanggilnya) di facebook..beliau meminta kepada saya untuk membantu menjelaskan status tersebut atas permintaan seorang temannya yang sangat tawadhu/rendah hati, sangat ingin menggali ilmu yang shahih.

sebenarnya saya merasa tersanjung ( kayak judul sinetron ya..) sekaligus berat hati bagaikan memikul gunung untuk memberikan penjelasan atas status tersebut yang sebenarnya menurut “penerawangan” saya kang Dayat sendiri mampu menjelaskannya karena tidak semata-mata kang Dayat menulis status tersebut kecuali kang Dayat pasti memahaminya walaupun menurut pengakuannya kang Dayat masih jauh dari status yang dibuatnya ( sama kang.....tebih pisan). tapi untuk kebaikan yang lebih besar saya mencoba memberikan sumbangan pemikiran sedikit semoga bermanfaat.

Bismillah………

Kata asbab berasal dari bahasa arab, terbentuk dari kata “Asbaba” kata “Asbaba” merupakan jama’ dari kata “Sababa” yang berarti sebab, maka “Asbaba” mempunyai arti sebab-sebab. terjadinya sesuatu, adanya sesuatu menurut logika karena ada sebabnya, ada yang melatar belakangi sesuatu itu ada. Kita sering dengar asbab an-Nuzul atau asbab al- Wurud. Sebab-sebab atau yang melatar belakangi turunnya ayat atau hadist. Dalam keseharian kita misalnya berlaku hukum sebab akibat. Sebab sesuatu akan berakibat sesuatu. Dan terkadang bahkan sering sebab itu sendiri muncul karena sebab yang lain ( nah loh bingung…bingung deh. Sampai disini berhenti dulu membaca dan rileks….oke). Disinilah point perbedaan cara pandang orang2 yang mengaku tidak percaya akan adanya Tuhan ( baca: Alloh) dengan orang-orang beriman yang percaya akan keberadaan Alloh yang memiliki sifat Al Awwal ( yang Maha Awal tanpa permulaan) dan Al Akhir( yang Maha Akhir tanpa Akhiran).

“ Dialah yang awal dan yang akhir, yang dhohir dan yang bathin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” ( QS Al Hadid: 3)

dalam status kang Dayat asbab dimaknai sarana, materi, kekayaan, uang, mobil, motor, rumah dan materi kebendaan lainnya yang itu semua adalah bisa menjadi sebab kebaikan juga sebaliknya keburukan tergatung kepada niat dan pemanfaatannya. Dengan mobil bisa menjadi sebab seseorang sampai ke majelis ta’lim dan dengan sebab mobil seseorang bisa sampai pula ke lokalisasi. Naudzubillah…..nah dalam menjalankan amal sholeh atau kebaikan apapun, kita tidak boleh bergantung kepada sebab-sebab ini dalam artian sebab jadi tujuan, sebab jadi “tuhan” secara sadar atau tidak. Saya akan sholat berjamaah jika ada sepeda yang mengantarkan saya ke mesjid, saya akan dakwah jika ada duit yang cukup, saya akan shodaqoh jika gaji saya sudah mencapai nilai segini….., , kalau saya tidak buka toko saya tidak akan mendapatkan rezeki, saya akan ini jika….saya akan itu bila…….saya gak bisa amal sholeh jika……..dan sebagainya. Bergantung kepada asbab dalam menjalankan amal sholeh adalah kerusakan aqidah dan keimanan. Perang Hunain adalah sebuah perang yang mengajarkan kepada kita bagaimana akibat yang diterima kepada orang-orang yang meyakini asbab dari pada kepada Sang Pemilik asbab ( Alloh SWT) peristiwa itu Alloh abadikan dalam Firmannya didalam Al-Quran:

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu pada beberapa tempat dan pada Perang Hunain, tatkala kamu bangga dengan jumlahmu yang banyak, tapi tidak berguna sedikitpun. Dan bumi yang luas menjadi sempit bagimu saat itu, hingga kamu berpaling sambil mundur. Kemudian Allah turunkan perasaan tenang kepada Rasul-Nya dan kepada semua orang Mukmin. Dan Ia kirimkan bala tentara yang tidak kamu ketahui dan Ia siksa orang-orang yang kafir. Demikianlah balasan Allah kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 25-26)

Awalnya ialah pemimpin-pemimpin kabilah Hawazin dan Tsaqif khawatir kalau setelah Makkah takluk akan tiba giliran mereka ditaklukkan. Karena itu mereka berinisiatif untuk menyerang kaum Muslimin lebih dahulu. Dikumpulkanlah seluruh rakyat berikut semua harta benda yang mereka miliki untuk dibawa ke medan perang. Pasukan mereka itu dipimpin oleh Malik bin Auf, dengan pasukan yang jumlahnya hampir mencapai 30 ribu prajurit.

Di pihak Islam, Nabi mengomandokan kaum Muslimin agar bersiap-siap untuk menghadapi tantangan itu. Pasukan Islam yang terdiri dari sahabat-sahabat Nabi yang telah lama masuk Islam dan yang baru, keluar bersama Nabi. Sesampainya di Lembah Hunain, mereka disergap oleh tentara-tentara Hawazin dan sekutu-sekutunya. Tetapi serbuan mendadak ini berhasil diatasi, sehingga orang-orang sibuk mengambil harta benda yang ditinggalkan oleh musuh. Dalam kesibukan itulah musuh kembali mengambil inisiatif untuk kembali menyerang dan mengakibatkan porak-porandanya pasukan Islam. Mereka semakin kocar-kacir setelah mendengar bahwa Rasulullah telah terbunuh.

Berkali-kali Nabi menyerukan bahwa dirinya masih hidup, tetapi hanya beberapa kelompok Muhajirin dan Anshar saja yang tetap bertahan. Kemudian Abbas kembali meneriakkan hal yang sama sehingga berhasil mengumpulkan pasukan yang sudah kacau-balau itu, bahkan berhasil kembali mengungguli musuh dan memboyong harta rampasan yang berlimpah ruah.

Dalam peristiwa perang hunain tersebut kita bisa ambil pelajaran bagaimana tatkala sebagian dari pasukan muslimin menggantungkan keyakinannya kepada asbab kebendaan yakni banyaknya pasukan, mereka lupa bahwa pertolongan Allohlah yang sebenarnya menentukan. walaupun perang Hunain dimenangkan kaum muslimin dibawah komando Rosululloh SAW sendiri beserta kaum Anshar dan muhajrin yang keimanan mereka tidak diragukan lagi.

Kita lihat bagaimana dengan kejadian perang Badar. Pada peperangan ini, diriwayatkan bahwa Rasulullah senantiasa terus memperbanyak doa, dengan penuh ketundukan dan khusyu’, sehingga Abu Bakar iba melihat beliau seraya berkata “Ya Rasulullah, demi diriku yang berada di tanganNya, bergembiralah! Sesungguhnya Allah pasti akan memenuhi janjiNya kepadaMu.” Salah satu dari doa beliau, “Ya Allah, inilah orang-orang Quraisy yang datang dengan kecongkakan dan kesombongannya untuk mendustakan RasulMu. Ya Allah, tunaikanlah kemenangan yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, kalahkan mereka esok hari…”. Sesungguhnya betapa banyak dan besarnya pertolongan yang Allah berikan bagi pasukan Rasulullah Saw. dalam perang Badar. Betapa janji Allah selalu benar, bahwa Allah Swt. pasti akan menolong hambaNya yang menolong agamaNya. Sejarah telah mencatat rahmat Allah yang menyertai orang-orang yang beriman. Kemenangan sejati selalu ada ketika ia bersandingan dengan iman. Walaupun pasukan muslimin dalam jumlah jauh lebih sedikit dibanding pasukan musuh. Dalam peristiwa ini Alloh SWt menolong kaum Muslimin dengan menurunkan pasukan malaikat sebagaimana di firmankan :

“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan kepadamu bala bantuan dengan seribu malaikat yang ating berturut-turut. “Dan Allah tidak menjadikan (bantuan bala tentara malaikat itu) melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tentram karenanya. Dan kemenangan itu hanya dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa Maha Perkasa. (” (Q.S.An Anfal:9-10).

Masih banyak lagi peristiwa yang menjelaskan pentingnya kita menempatkan yakin atau Iman diatas asbab kebendaan.

Jangan salah persepsi dan salah menyikapi.

Dalam menyikapi status kang Dayat diatas jangan disalah artikan bahwa kita tidak membutuhkan asbab itu sama sekali. Jangan jadi kaum jabariyah yang mengatakan, seorang hamba terpaksa (dikendalikan) dalam perbuatan dan tindakannya, manusia tidak memiliki kehendak dan kemampuan. Mereka berlepas tangan dari ikhtiar mereka dalam hal ini kebablasan alias Ghuluw. Alloh memberi kita kemampuan dan kehendak yang harus dijalankan secara lahir. Berdasarkan firman Alloh ta’aala:

''Dan katakanlah, Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu Neraka yang gejolaknya mengepung mereka.'' (Al-Kahfi: 29).

Hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dan lafazh dari riwayat Imam al-Bukhari dari Ali bin Abi Thalib, sesungguhnya Nabi bersabda. ''Setiap orang dari kalian telah ditentukan tempatnya di Surga atau di Neraka. Seseorang bertanya, 'Kenapa kita tidak pasrah saja, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab: 'Jangan, akan tetapi berbuatlah karena masing-masing akan dimudahkan”. Kemudian beliau membaca ayat, 'Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.'' (QS.AI-Lail: 5)

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (QS. Al Qashash : 77)

Saya kira untuk menyegarkan ingatan saya kutip kembali status FB kang Dayat di paragraph ini :

“biarkanlah kita kehilangan dan tidak menguasasi asbab-asbab (sebab/sarana) itu tetapi jangan sekali-kali kita kehilangan dan tidak memiliki 'ruhul asbab'nya yaitu Allah swt. yang memiliki, berkuasa dan berkehendak atas asbab-asbab itu.........”

Melihat bayan/penjelasan sebelumnya kita faham bahwa status diatas bukan ditujukan untuk menggembosi kita untuk tidak memperoleh asbab ( asababnya satu aja karena sudah jama’ kalau dua kali kebanyakan heheheh) atau saran kebendaan atau dunia tapi bagaimana kita menempatkan Alloh swt Sang pemilik asbab/sarana itu yang utama di hati kita, jangan sampai karena tidak ada asbab menjadikan kita lemah untuk memperoleh karunia Alloh, karena tidak ada asbab kita terhalang dari jalan Alloh, karena tidak ada asbab kita resign dari amal sholeh. Tapi jadikan asbab yg Alloh takdirkan bagi kita sebagai sarana untuk memperoleh cinta Alloh swt. Jika demikian adanya berarti kita masih yakin dengan asbab kebendaan dan hawa nafsu. Firman Alloh :

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal [nya]. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal [nya]. ( QS An-Nazi’aat: 38-41)

Kecuali jika kita dihadapkan untuk memilih dan tidak ada pilihan lain selain keduanya maka ucapkanlah:

“biarkanlah kita kehilangan dan tidak menguasasi asbab-asbab (sebab/sarana) itu tetapi jangan sekali-kali kita kehilangan dan tidak memiliki 'ruhul asbab'nya yaitu Allah swt. yang memiliki, berkuasa dan berkehendak atas asbab-asbab itu.........”

Wallohu A’lam Astaghfirullohal ‘adhiim


Al faqir ilalloh


Rudy Abu Adzkiya


Monday, November 29, 2010

Anakku... lepaskan 3 ikatan syetan itu!!!

“ sayang, bangun sayang! Subuh …subuh!”, rayuku kepada putriku Adzkiya yumna yang sedang tertidur lelap terbuai mimpi berselimut kelambu merah bercorak bunga ros.

“ yumna..bangun nak sudah hampir terang tuh…”, rayuku kembali dengan menyebut nama belakangnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 04.35. itu artinya waktu subuh sudah lewat sekitar 30 menit waktu Bandung. Adzkiya yumna putri sekaligus anak pertamaku tidak bergeming dari kasurnya yang beralaskan lantai, tepat di ruang tengah “gubuk” ku.

Adzkiya sudah kelas satu sekolah dasar. Sekarang usianya tepat tujuh tahun. Walau sedikit dipaksa untuk sholat lima waktu Adzkiya terbilang sudah terbiasa melakukannya kecuali sholat subuh. Aku dan istriku harus lebih bersabar untuk berusaha membangunkan Adzkiya untuk sholat subuh tepat waktu. Terikat oleh anjuran Nabi Saw aku berusaha untuk membiasakan sholat lima waktu kepada putriku yang satu ini walau usaianya masih terbilang dini. Ibarat pohon selagi masih muda batangnya masih mudah untuk di arahkan, dibengkokkan kesana kemari tergantung kemana arah batang pohon muda itu di arahkan si empunya.

Kiya…bangun sayang”, sambil ku elus-elus kepalanya aku merayu lagi kali ini ku panggil dengan panggilan kecilnya.

Ku usap-usap punggungnya Adzkiya menggeliat berpindah posisi merangkul bantal guling hijau daun disampingnya.

Iya..nanti masih ngantuk….”, gumamnya mulai bangun walau terlelap kembali.

Yumna…..yumna…ayo nak..subuh.subuh,” aku memelas pura pura sedih.

Terbersit dalam hatiku sebuah hadist Nabi saw yang menjelaskan tentang tiga ikatan syetan yang menjadikan manusia malas bangun dari tidurnya untuk sholat.

Kuraih putriku yang masih merangkul bantal gulingnya dan keletakkan kepalanya di lengan kananku.

”Kiya …denger !. ayah mau kasih tau sama kiya ..mau denger gak?..”, tanyaku walau Adzkiya masih terpejam matanya. Adzkiya mengangguk lemah. Itu tandanya dia mendengar apa yang aku katakan padanya.

Bismillah……

“ kiya, …orang itu kalau tidur susah bangun untuk sholat , itu tandanya dia diikat sama syetan, tiga biji lagi ikatannya”, aku menjelaskan sementara mata Adzkiya masih terpejam.

“ah gak pa pa “, kataku dalam hati. Aku yakin Adzkiya mendengarkan.

( penulisan terhenti karena Adzkiya datang menghampiri ku dan membaca apa yang ku tulis dia merebut mouse dan menutup catatan ini sambil tertawa malu…dan langsung ngacir ..pergi mandi ..hehehehe)

Lanjut……

( ehhh istriku memanggil……”ayah….ayah… “, pangil istriku. “ ya…bu ono opo”, jawabku. “ tolong jemur pakaian!..”, istriku meminta. Hihihihi….tugas rutin menanti ..jemur pakaian..si kecil hilmi pun terbangun memanggil..manggil ibunya….buyarrrrr deh..cancel…save)

Lanjut….

“ kiya, …orang kalau tidur susah bangun untuk sholat , itu tandanya dia diikat sama syetan, tiga, lagi ikatannya”, aku menjelaskan sementara mata Adzkiya masih terpejam.

“ah gak pa pa “, kataku dalam hati. Aku yakin Adzkiya mendengarkan.

“kiya…kalau kiya bangun terus baca doa, satu ikatan syetan lepas nak…” aku menjelaskan.

“ ayo nak bangun……baca doanya…”, pintaku. Adzkiya lilir sambil bergumam membaca doa bangun tidur yang memang sudah dihafalnya “ Alhamdulillahilladzii ahyaanaa badamaa amatanaa wailaihinnusyuurr..”. Walau sambil ngantuk-ngantuk, Adzkiya membacanya dengan lengkap agak sedikit belepotan. Matanya masih terpejam tubuhnya masih lemas dipangkuanku. Aku kembali mengusap-usap punggungnya dengan hati berharap Adzkiya terbangun.

Matanya terbuka kecil dan tersenyum kepadaku.

“ ayaaaahhh…..”, Adzkiya memanggil lirih.

“ ayo nak bangun….satu ikatan syetan sudah lepas tuh, kan tadi kiya dah berdoa. Ayo nak kalahkan syetan..masih dua lagi…”, rayuku sambil terus kuusap kepalanya.

“ ayo nak ….wudhu nak…ayo lepaskan ikatan kedua dengan pergi ke air dan ambil wudhu!”,sahutku lagi.

Tidak terlalu lama Adzkiya bangkit seraya berkata “ pipis….pengen pipis”, pintanya sambil masih ngantuk-ngantuk. Kuantarkan Adzkiya menuju kamar mandi untuk menuntunnya berwudhu. Selepas wudhu akupun menegaskan lagi padanya.

“ nah dua syetan sudah kiya kalahkan…kiya hebat bisa mengalahkan syetan…tapi masih satu tuh ..ayo sholat subuh kita habisi syetan sekalian…ayah bantuin deh…”, seruku. Adzkiyapun bergegas mengambil mukena dan sajadahnya dan sholat dua rokaat subuh sambil berkata “ ayah….janghan liatin atuuhh ..”, pintanya malu. Aku tinggalkan Adzkiya sholat subuh dibalik tembok kamar tengah tempat tidurnya sehari-hari. Tak terasa air mataku menetes bahagia melihat putriku Adzkiya yumna bersujud menyembah Robbnya di keheningan pagi yang masih gelap. Segala puji hanya milik-Mu yaa Alloh jadikan hamba yang lemah ini termasuk orang-orang yang menegakkan sholat dan juga anak keturunanku….aminn .

Monday, September 27, 2010

Gak Ada Ide Pun Bisa Belajar Menulis

Apa yang harus saya tulis hari ini, ikut kursus belajar menulis, pengen sih tapi…saya sendiri gak tahu alasannya kenapa saya kok rasanya "diganduli" jika ada rencana ke arah sana. Kadang iri juga melihat beberapa temen dapat membuat buku dari hasil cuap- cuap di blognya atau menulis hasil liputan jurnalistiknya. Betapa bangganya memiliki hasil karya yang dapat dinikmati orang banyak, apalagi karya itu dapat memiliki nilai manfaat bagi pembacanya uih…. selain senang jadi amal jariyah pula. Jadi inget kata-kata hikmah “ilmu itu diikat dengan menulis”. betapa penting peran tulis-menulis bagi kehidupan peradaban manusia. sejak awal al qur’an diturunkan Alloh swt memerintahkan dengan kalimat baca dan tulis. “Bacalah!! dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah, Bacalah!! dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam”. kata baca dan kalam adalah dua hal yang pasti berkaitan. Kalam Dengan tidak bermaksud menafsirkan firman tersebut saya fikir seorang penulis yang baik dia semestinya banyak membaca …membaca dan membaca. Dengan membaca akan berlimpah ilmu dengan berlimpah ilmu maka akan mudah kita menyampaikan pesan dengan media apapun termasuk diantaranya dengan tulisan.

Menengok agak jauh ke masa lalu mungkin orang kebayakan bilang masa kuno dan tradisional, masa dimana orang-orang shaleh, para ilmuwan terdahulu begitu brilian dengan khazanah ilmu dan penemuan-penemuan yang mereka ciptakan. Mereka tidak lepas mencatat karya besar mereka dalam tulisan-tulisannya. Sebut saja Ibnu Katsir yang memiliki nama lengkap Abul Fida’, Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Bushrawi ad-Dimasyqi, Kitab beliau Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjadi kitab tafsir terbesar dan tershahih hingga saat ini al-Bidayah Wa an-Nihayah yang berisi kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, Jami’ Al Masanid yang berisi kumpulan hadits, Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits tentang ilmu hadits, Risalah Fi al-Jihad tentang jihad dan masih banyak lagi. Imam Al Ghazali dengan kitab Ihya Ulumuddin kitab fenomenal yang memaparkan Islam dari berbagai sudut, Sir Issac Newton menulis sebuah buku Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, dimana pada buku tersebut dideskripsikan mengenai teori gravitasi secara umum, berdasarkan hukum gerak yang ditemukannya, dimana benda akan tertarik ke bawah karena gaya gravitasi. Dan masih banyak lagi karya-karya besar orang-orang terdahulu yang mengangkat namanya sepanjang masa.

Alloh Swt mengisyaratkan dengan kalimat pena dan tinta tatkala Dia menjelaskan tentang Maha luasnya ilmu-Nya sebagaimana tersebut dalam Al-qur’an Surat Al-Kahfi ayat 109 dan Luqman ayat 27

“Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.” (QS. Al Kahfi: 109)

“Dan seandainya pohon-pohon di muka bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Luqman: 27).

Melihat fenomena kebiasaan manusia sejak lahir sampai liang kubur kayaknya menulis adalah fitrah atau sunatulloh bisa dikatakan demikian. Surat menyurat, ngeblog, update status di facebook, ngasih komentar, sms bolak-balik alias “berbalas pantun” dan banyak fenomena lainnya.

Ada beberapa alasan bagi saya sebenarnya jujur saja, awalnya saya berpendapat bahwa menulis itu identik membuat buku-buku besar an sich, tanpa memikirkan prosesnya, jadi berfikir instant, emangnya buat mie bisa instant….. Maka saya terlalu berat saya berfikir. Ibarat seorang anak kecil yang gemar bermain sepak bola sudah berfikir ingin seperti Ronaldo dengan tidak pernah menendang bola sama sekali. Maka untuk menjadi penulis hebat sekaligus sukses kita harus menjalani tahapan-tahapan proses kearah sana awalnya. Belajar menulis adalah bagian dari proses itu. Lo ternyata saya sudah menulis......


http://www.sekolahmenulisonline.com/

Tulisan ini diikutsertakan pada Program Beasiswa SMO 2010

Thursday, September 23, 2010

Rudoet

Bandung mulai kembali “ normal” alias macet, maklum saya sedang berada di atas “kuda “ revo saya tepat di jalan Sukarno hatta by Pass menuju kantor selepas mengantar putri saya Adzkiya Yumna ( semoga jadi anak yang sholehah ). Ditengah perjalanan saya tertegun sambil tersenyum kecil membaca sebuah tulisan di kaca belakang sebuah angkot jurusan margahayu- ledeng. “RUDOET” begitu bunyi tulisan itu, jika dibaca kurang lebih RUDET merupakan kaosa kata bahasa sunda yang artinya kurang lebih REPOT/NYUSAHIN. Ada cerita lucu sekaligus sedikit mengesalkan berkaitan dengan tulisan itu. Pada tahun 2003 lalu tepatnya pada saat istri saya melahirkan Adzkiya Yumna anak pertama saya yang sudah kami tunggu kehadirannya selama kurang lebih 4 tahun kami menikah, di bangsal kelas tiga Rumah sakit Al Islam Bandung bersama istri saya ada satu pasien lagi seorang ibu sedang berbincang-bincang dengan kerabatnya yang kebetulan pada sore itu datang menjenguk. Dari pembicaraan mereka saya ambil kesimpulan bahwa suami si ibu tidak pernah datang menjenguk ibu dan bayinya selepas melahirkan, karena sang suami sangat ditunggu kehadirannya di rumah sakit karena si ibu dan jabang bayinya belum bisa keluar karena belum menyelesaikan biaya persalinan sehingga si ibu dan bayinya tertahan beberapa lama di rumah sakit. Kasihan itulah yang terbersit dari hati saya dan juga mungkin istri saya yang kebetulan bersama saya di bangsal sebelahnya kami berniat untuk memberi beberapa rupiah kepada sang ibu untuk mengurangi bebannya tidak banyak karena kami sendiri dibantu pembiayaan melahirkan anak kami oleh kakak kami ( Allohu Yarham) yang kebetulan pada saat yang sama sedang dirawat di rumah sakit yang sama. Disaat perasaan kasihan itu muncul dari hati kami berdua sang kerabat berkata : “ geus we dibere ngaran rudy budak teh meni rarudet kiyeu” ( udah kasih nama Rudy aja anak ini merepotkan sekali ). Spontan kami tertawa ngakak tanpa bersuara mendengar ucapan tersebut apalagi istri saya tak kuasa menahan sakit karena harus tertawa sekaligus menahan sakit bekas luka yang belum kering karena operasi Caesar. Yaa Alloh benarkah nama Rudy selalu merepotkan banyak orang?. Ah itu bisa-bisanya sang kerabat ibu itu saja..banyak nama Rudy dan memberikan manfaat banyak bagi orang lain. Kita tahu Rudy Hartono pebulu tangkis nasional yang disegani, Rudy Choirudin chef terkenal, Rudy Voller Pemain sepak bola handal, bahkan dalam sebuah iklan lebih menegaskan lagi “ percayalah apa yang dikatakan Rudy”, terakhir Bapak Rudy dapat Warisan beberapa sepeda motor dan sejumlah rumah heheheh. Jadi nama rudy tidak selalu RUDET atau RUDOET sebagaimana yang tertulis di kaca belakang angkot tersebut dan tidak mungkin saya berganti nama hanya gara-gara pembicaraan di rumah sakit itu. Istriku… maafkan aku bila aku selalu merepotkan mu……